ekonomi

Dolar AS Sentuh Rp17.503, Apa Dampaknya Bagi Rupiah dan Seberapa Besar Risiko Gejolak Selat Hormuz

Rabu, 13 Mei 2026 | 05:00 WIB
Pergerakan kurs terbaru menempatkan rupiah di titik krusial yang menjadi perhatian investor dan otoritas moneter nasional (Dok. Kreasi Dola AI)

Tekanan eksternal tersebut memperbesar volatilitas pasar keuangan domestik.

Investor global cenderung menarik dana dari pasar berkembang ketika risiko geopolitik meningkat.

Baca Juga: BEI Awasi Dugaan Fraud TLKM Rp5 Triliun, Investigasi SEC dan DOJ Picu Sorotan Baru Terhadap Tata Kelola

Pergerakan itu mempercepat pelemahan kurs meski fundamental ekonomi Indonesia relatif stabil.

Level Rp17.500 Menjadi Titik Psikologis Pasar Nasional

Level Rp17.500 dinilai sebagai batas psikologis penting dalam sejarah perdagangan rupiah.

Posisi ini mendekati zona tekanan yang pernah tercatat pada periode krisis moneter dan pandemi global.

Baca Juga: Royalti Tambang Naik Juni 2026, Pemerintah Cari Formula Aman untuk Korporasi Batu Bara dan Nikel Nasional

Setiap penembusan level tersebut biasanya memicu kewaspadaan lebih tinggi di pasar.

Latar belakangnya, rupiah sempat tertekan berat saat pandemi 2020 sebelum pulih melalui intervensi moneter agresif.

Tekanan serupa kembali terlihat ketika suku bunga global meningkat sepanjang 2025.

Baca Juga: JP Morgan Sebut Ketahanan Ekonomi Indonesia Lebih Kuat Dibanding Amerika Serikat dan Tiongkok

Kini kombinasi geopolitik dan penguatan Dolar AS menciptakan tekanan berlapis.

Fundamental Ekonomi Domestik Masih Menjadi Penyangga Utama

Di tengah tekanan kurs, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tercatat 5,61 persen.

Angka tersebut menunjukkan aktivitas konsumsi dan investasi domestik masih terjaga.

Baca Juga: JP Morgan Sebut Ketahanan Ekonomi Indonesia Lebih Kuat Dibanding Amerika Serikat dan Tiongkok

Halaman:

Tags

Terkini