THE BOTTOM LINE:
- Pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen ditopang konsumsi rumah tangga selama Ramadhan dan Lebaran.
- Program Makan Bergizi Gratis dan belanja pemerintah ikut menopang aktivitas ekonomi domestik sepanjang awal tahun 2026.
- Ekonomi Indonesia masih dibayangi risiko geopolitik global, inflasi, krisis energi, dan pelemahan mata uang hingga akhir tahun.
BISNISNEWS.COM - Mengapa ekonomi Indonesia tumbuh tertinggi dalam lima tahun terakhir, tetapi daya beli masyarakat masih terasa berat?
Benarkah lonjakan konsumsi selama Ramadhan dan Lebaran menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional awal 2026?
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tertinggi dalam Lima Tahun Terakhir
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia Triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen.
Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada Triwulan I 2026 mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp3.447,7 triliun atas dasar harga konstan.
Capaian tersebut menjadi salah satu pertumbuhan ekonomi tertinggi Indonesia dalam lima tahun terakhir di tengah perlambatan ekonomi global dan tekanan geopolitik internasional.
Pengamat ekonomi dan Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza, menilai pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan pemulihan cukup kuat meski belum sepenuhnya dirasakan masyarakat secara merata.
“Pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya terasa di lapangan,” ujar Handi dalam keterangannya.
Konsumsi Rumah Tangga Jadi Penopang Utama Ekonomi Nasional Tahun Ini
Handi menjelaskan momentum Ramadhan dan Idul Fitri sejak pertengahan Februari hingga pertengahan Maret 2026 menjadi faktor utama penggerak ekonomi domestik.
Peningkatan belanja masyarakat untuk makanan, minuman, pakaian, transportasi, hingga akomodasi mendorong konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen.
Menurut Handi, konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi mencapai 54,36 persen terhadap struktur perekonomian nasional.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.400, Dosen UGM Ungkap Faktor Global dan Risiko Besar Ekonomi Indonesia Saat Ini