Selain itu, arus keluar dividen dan bunga dari investasi asing disebut lebih besar dibandingkan arus masuknya.
Anthony Budiawan menilai kondisi ini mencerminkan fundamental ekonomi yang belum sepenuhnya kuat secara struktural.
Baca Juga: Jika Iran Kalah Perang, Bagaimana AS dan Israel Membentuk Timur Tengah Baru Secara Geopolitik Global
Tren Depresiasi Rupiah Memicu Pertanyaan Soal Nilai Wajar
Dalam lebih dari satu dekade terakhir, rupiah menunjukkan tren depresiasi dari kisaran Rp12.000 per dolar AS menjadi sekitar Rp17.000.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan kritis mengenai apakah nilai tukar saat ini benar-benar berada di bawah nilai wajarnya.
Jika rupiah terus melemah meski disebut undervalued, maka asumsi nilai wajar tersebut perlu dievaluasi kembali secara menyeluruh.
Anthony Budiawan menyebut bahwa depresiasi berulang bisa mencerminkan kondisi ekonomi riil, bukan sekadar faktor eksternal.
Ia menambahkan bahwa penting untuk melihat apakah pelemahan ini justru mencerminkan realitas fundamental domestik.
Evaluasi Narasi dan Kredibilitas Kebijakan Menjadi Sorotan Utama
Pengulangan narasi tanpa perubahan signifikan berpotensi menurunkan kredibilitas kebijakan di mata publik dan investor.
Baca Juga: Kasus Korupsi Sritex Rp1,3 Triliun, Jaksa Tuntut Eks Direksi 16 Tahun Penjara di Pengadilan Tipikor
Dalam jangka panjang, kepercayaan pasar tidak hanya ditentukan oleh komunikasi, tetapi juga oleh perbaikan fundamental nyata.
Anthony Budiawan mengibaratkan kondisi ini seperti diagnosis yang tidak berubah meski kondisi pasien memburuk.
Menurutnya, jika narasi terus diulang tanpa hasil, maka yang perlu dievaluasi adalah pendekatan analisis dan kebijakan.
Baca Juga: Isu Pajak Kapal Selat Malaka Dibantah, Ini Sikap Pemerintah Soal Kebebasan Navigasi Internasional