Kondisi tersebut memaksa banyak korporasi meninjau ulang alokasi anggaran termasuk belanja komunikasi dan pemasaran.
Efektivitas komunikasi yang sebelumnya berfokus pada awareness kini dipertanyakan karena harus menunjukkan kontribusi terhadap kinerja bisnis.
Peran PR Bergeser Menjadi Fungsi Strategis Berbasis Data dan Reputasi
Ketua Tim Riset Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Natalia Widiasari, menyebut industri PR tengah memasuki fase transformasi strategis.
Ia menjelaskan perubahan ini dipicu oleh kompleksitas isu, perkembangan algoritma digital, serta kebutuhan pengukuran kinerja berbasis dampak.
Hampir seluruh responden menempatkan manajemen reputasi sebagai kebutuhan utama dalam layanan PR yang mereka gunakan.
Selain itu, kebutuhan terhadap market intelligence dan komunikasi pemasaran terintegrasi juga mengalami peningkatan signifikan.
Namun, tingkat pengukuran kinerja PR masih beragam dengan sebagian korporasi belum melakukan evaluasi secara konsisten.
Preferensi Konsultan Lokal dan Model Kerja Proyek Dominasi Pasar
Hasil studi menunjukkan sekitar 88 persen responden lebih memilih konsultan lokal karena dianggap memahami konteks domestik.
Model kerja berbasis proyek mendominasi dengan porsi 67 persen dibandingkan kontrak jangka panjang yang masih terbatas.
Variasi anggaran komunikasi juga cukup lebar dengan sebagian korporasi mengalokasikan kurang dari Rp300 juta per tahun.
Sementara sebagian lainnya menginvestasikan hingga miliaran rupiah tergantung kebutuhan reputasi dan kompleksitas komunikasi.