THE BOTTOM LINE:
- Selat Malaka jadi jalur pelayaran strategis dunia dengan 25 persen perdagangan global melintas setiap tahun secara konsisten.
- Posisi geografis menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik menjadikan Selat Malaka kunci distribusi energi global.
- Sejarah panjang dari Sriwijaya hingga kolonial menunjukkan perebutan kendali jalur ekonomi paling vital dunia.
BISNISNEWS.COM - Mengapa Selat Malaka menjadi lokasi yang diperebutkan dunia, sejak berabad-abad lalu?
Bagaimana jalur Ini banyak mengubah arah perdagangan global hingga hari ini?
Peran Strategis Selat Malaka dalam Jalur Perdagangan Global
Selat Malaka merupakan jalur pelayaran sempit yang memisahkan Semenanjung Malaya dengan Pulau Sumatera, sekaligus menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik melalui Laut Tiongkok Selatan.
Dengan panjang sekitar 930 kilometer, selat ini menjadi salah satu titik sempit atau choke point paling vital dalam perdagangan global, khususnya pengiriman energi dan komoditas strategis.
Lebih dari 100.000 kapal melintas setiap tahun, membawa sekitar 25 persen perdagangan dunia, menjadikan Selat Malaka sebagai urat nadi logistik internasional yang sulit tergantikan.
Sejarah Panjang Perebutan Kendali Jalur Ekonomi Dunia Penting
Sejak masa kerajaan Nusantara, Selat Malaka telah menjadi pusat aktivitas ekonomi, terutama saat Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur ini dan memungut cukai dari kapal dagang.
Dominasi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai pusat perdagangan internasional antara India dan Tiongkok, sekaligus memperkuat posisi politik Sriwijaya di Asia Tenggara.
Memasuki era kolonial, Portugis menaklukkan Malaka pada 1511, kemudian diikuti Belanda pada 1641 dan Inggris melalui pengaruhnya sejak 1819.
Asal Usul Nama Malaka dari Legenda Hingga Linguistik
Nama Malaka diyakini berasal dari legenda Parameswara yang mendirikan kerajaan setelah melihat keberanian seekor kancil di bawah pohon Melaka.
Baca Juga: BNI Tuntaskan Pengembalian Dana Nasabah Rp28,26 Miliar, Ini Dampaknya Terhadap Kepercayaan Publik
Menurut kitab Sulalatus Salatin, nama pohon tersebut kemudian diabadikan sebagai nama kerajaan, yang akhirnya melekat pada selat di sekitarnya.