Didik menambahkan bahwa keterlibatan Jumhur dalam ICMI dan CIDES pada era Presiden B.J. Habibie menunjukkan pergeseran dari aksi menjadi formulasi kebijakan.
“Jumhur tetap membawa semangat pro-rakyat, tetapi mulai mengubah pendekatan dari konfrontasi menjadi mediasi dan desain kebijakan,” kata Prof. Didik J Rachbini.
Perubahan ini disebut sebagai proses alami bagi aktivis yang memasuki struktur kekuasaan dan dituntut bekerja dalam sistem.
Ujian Konsistensi Aktivis Saat Masuk dalam Struktur Kekuasaan
Penunjukan Jumhur sebagai Menteri Lingkungan Hidup menimbulkan pertanyaan besar terkait konsistensi idealisme ketika berada dalam pemerintahan.
Didik menilai bahwa tantangan utama bagi Jumhur bukan hanya merumuskan kebijakan lingkungan, tetapi menjaga integritas nilai yang selama ini diperjuangkan.
Baca Juga: Kehadiran Prabowo di Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju Jadi Sorotan Publik dan Tokoh Nasional
Menurutnya, banyak aktivis yang mengalami dilema ketika masuk kekuasaan karena tekanan kompromi politik yang tidak terhindarkan.
Didik menegaskan bahwa Jumhur kemungkinan tidak lagi menggunakan pendekatan konfrontatif seperti masa lalu.
Namun, ia diyakini akan mengedepankan strategi kebijakan yang lebih sistematis dalam menyelesaikan persoalan lingkungan hidup nasional.
Prediksi Arah Kebijakan Lingkungan Hidup Era Jumhur Hidayat
Dalam konteks kebijakan, Didik memprediksi Jumhur akan fokus pada pendekatan berbasis kebijakan struktural yang berpihak kepada masyarakat kecil.
Hal ini sejalan dengan rekam jejaknya yang konsisten memperjuangkan ekonomi kerakyatan dan keadilan sosial.
Didik juga melihat bahwa isu lingkungan hidup saat ini semakin kompleks dengan tekanan industrialisasi dan konflik kepentingan ekonomi.