THE BOTTOM LINE:
- MSCI menghapus enam saham Indonesia dari indeks global sehingga memperbesar tekanan jual investor asing di pasar domestik.
- Pasar merespons pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai korporasi khusus ekspor komoditas strategis nasional.
- Rosan Roeslani menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap solid meski pasar modal sedang menghadapi tekanan global.
BISNISNEWS.COM - Apakah pembentukan BUMN eksportir tunggal komoditas SDA akan mengubah peta investasi nasional dan mengganggu mekanisme pasar?
Mengapa IHSG langsung anjlok lebih dari tiga persen setelah pemerintah menyiapkan aturan baru ekspor komoditas strategis nasional?
Sentralisasi Ekspor SDA Picu Tekanan Besar Terhadap Pergerakan IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 223,56 poin atau 3,54 persen ke level 6.094,94 pada Kamis, 22/05/2026.
Tekanan pasar muncul setelah pelaku investasi merespons rencana pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam.
Regulasi tersebut mencakup pengaturan mengenai BUMN sebagai eksportir tunggal sejumlah komoditas strategis nasional melalui korporasi baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Pelaku pasar domestik dan asing menilai kebijakan sentralisasi ekspor berpotensi memengaruhi mekanisme perdagangan komoditas serta arus investasi sektor sumber daya alam.
Baca Juga: Prabowo Desak Reformasi Bea Cukai Setelah Sidang KPK Seret Nama Djaka Budi Utama Dalam Dugaan Suap
Sentimen negatif semakin kuat setelah pasar mencermati pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai BUMN khusus ekspor komoditas strategis nasional.
Koreksi tajam IHSG kemudian memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas pasar modal Indonesia dalam jangka pendek.
Rosan Roeslani Sebut Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Sangat Solid
Chief Executive Officer (CEO).Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menilai pelemahan IHSG tidak dipengaruhi satu faktor tunggal semata.
Baca Juga: IHSG Tinggalkan Level 6100 Usai Pemerintah Bentuk Badan Pengawas Ekspor Komoditas Strategis Nasional
Menurut Rosan, kondisi pasar modal global dan domestik saat ini memang sedang mengalami tekanan akibat kombinasi sentimen teknikal serta persepsi investor.