finansial

Pelemahan Rupiah dan Konflik Timur Tengah, Tekanan Kurs Kini Dinilai Lebih Berat Bagi Perekonomian

Selasa, 19 Mei 2026 | 05:30 WIB
Akademisi FEB UGM menjelaskan faktor global dan domestik yang memicu tekanan rupiah serta ancamannya terhadap daya beli masyarakat. (Dok. Kreasi Dola AI) (Dok. Kreasi Dola AI)

Ia menilai kenaikan harga biasanya tidak terjadi seketika karena korporasi masih menggunakan stok lama sebelum melakukan penyesuaian.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61 Persen, Pernyataan Prabowo Soal Fundamental Kuat Jadi Sorotan Di Tengah Gejolak Dunia

Dalam rentang satu hingga beberapa bulan, tekanan biaya itu umumnya diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga barang.

“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok meningkat, biaya transportasi naik, hingga harga produk kesehatan ikut terdampak,” katanya.

Kondisi ini mengingatkan pada episode pelemahan rupiah sebelumnya ketika lonjakan kurs mendorong tekanan inflasi nasional.

Baca Juga: CBA Soroti Kasus 28 Korporasi Sumatera, Akankah Polri Buka Progres Pengusutan Dugaan Kerusakan Lingkungan

Beban Fiskal Pemerintah Menghadapi Tantangan yang Kian Berat

Tekanan terhadap rupiah juga memberi konsekuensi langsung terhadap anggaran negara yang sensitif terhadap pergerakan kurs.

Rijadh menyebut subsidi energi sebagai salah satu pos paling rentan akibat tingginya ketergantungan terhadap komponen impor.

Selain subsidi, kewajiban pembayaran utang luar negeri juga membengkak dalam denominasi rupiah meskipun nilai pokok dalam Dolar AS tetap.

Baca Juga: Prabowo Minta Publik Tetap Tenang Saat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61 Persen Jadi Sinyal Ketahanan Nasional Hadapi Tekanan Global

“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, fleksibilitas pemerintah membiayai pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelasnya.

Kondisi fiskal yang ketat sebelumnya juga menjadi sorotan dalam berbagai laporan ekonomi nasional terkait keterbatasan ruang belanja produktif.

Situasi tersebut dapat menekan kemampuan pemerintah menjaga daya beli masyarakat jika pelemahan berlangsung berkepanjangan.

Baca Juga: Kasus PT AKT Memanas, Kejagung Tahan Pemilik PT CBU Usai Dugaan Manipulasi Dokumen Ekspor Batu Bara

Strategi Bank Indonesia Menjaga Stabilitas dan Pertumbuhan Nasional

Dikutip dari laman resmi Ugm.ac.id, Rijadh menilai Bank Indonesia menghadapi dilema besar antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Halaman:

Tags

Terkini