Menurut Pandu, inilah yang menjadi pembeda utama antara Indonesia dan pasar maju Asia.
Bursa di kawasan seperti Taiwan dan Korea Selatan menikmati sentimen positif.
Hal itu ditopang korporasi yang menjadi bagian penting rantai pasok teknologi global, Indonesia memang masih menawarkan fundamental ekonomi yang stabil.
Namun stabilitas saja dinilai belum cukup menarik bagi investor global jangka panjang, pasar membutuhkan narasi pertumbuhan yang lebih progresif.
Energi Indonesia Bisa Jadi Kunci Menangkap Momentum AGI
Di tengah kritik itu, Pandu menilai Indonesia memiliki modal strategis yang besar, ia menyoroti kapasitas energi nasional sebagai kekuatan utama.
Menurut dia, sejumlah korporasi teknologi global mulai melirik pasokan energi Indonesia, energi menjadi kebutuhan utama dalam pengembangan kecerdasan buatan skala besar.
Pusat data AI membutuhkan konsumsi listrik yang sangat tinggi, dalam konteks itu, Indonesia memiliki peluang masuk dalam rantai nilai baru.
Peluang tersebut bisa menjadi katalis transformasi pasar modal nasional, namun Pandu menegaskan peluang itu membutuhkan eksekusi kebijakan yang cepat.
Tanpa strategi konkret, Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok energi mentah, nilai tambah ekonomi bisa dinikmati pihak luar.
Rebalancing MSCI Bukan Persoalan Utama Pasar Saat Ini
Komentar Pandu juga muncul menjelang rebalancing indeks MSCI ia menilai tekanan pasar domestik tidak semata berasal dari perubahan komposisi indeks.
Menurut dia, faktor yang lebih dominan adalah sentimen makro global, pelemahan rupiah menjadi salah satu indikator tekanan eksternal tersebut.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Mengapa Pemerintah Tetap Yakin APBN Aman di Tengah Tekanan Dolar AS Global