Perry Warjiyo menyatakan Bank Indonesia terus berada di pasar untuk menjaga kestabilan rupiah sesuai fundamental ekonomi domestik.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menahan tekanan eksternal akibat kebijakan suku bunga tinggi The Federal Reserve.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah dan Konflik Timur Tengah, Tekanan Kurs Kini Dinilai Lebih Berat Bagi Perekonomian
Namun, sebagian pelaku pasar menilai tekanan global yang persisten membutuhkan koordinasi lebih kuat antara otoritas moneter dan fiskal.
Daya Beli Masyarakat Mulai Menghadapi Tekanan Berlapis Berat
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga barang yang bergantung pada bahan baku impor.
Ketika biaya impor naik, pelaku usaha terpaksa menyesuaikan harga jual demi menjaga margin operasional.
Baca Juga: Serangan Drone di UEA Picu Harga Minyak Naik Ke 110 Dolar AS, Apa Efeknya untuk Ekonomi Global
Kondisi ini menekan kelompok masyarakat berpenghasilan tetap yang daya belinya semakin tergerus.
Laporan media menyoroti risiko lanjutan berupa penurunan konsumsi rumah tangga yang selama ini menopang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi nasional.
Jika tekanan berlangsung lama, korporasi berpotensi melakukan efisiensi untuk menekan beban operasional.
Skenario terburuknya adalah meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja pada sektor yang sensitif terhadap biaya impor.
Pasar Tradisional Menjadi Cermin Tekanan Ekonomi Domestik Aktual
Gejolak nilai tukar paling cepat tercermin di pasar tradisional, pedagang menghadapi dilema antara menaikkan harga atau menanggung penurunan keuntungan.
Di Pasar Senen, sejumlah komoditas yang terkait impor mulai menunjukkan kenaikan harga bertahap, fenomena ini menandakan transmisi tekanan kurs telah masuk ke sektor riil.
Baca Juga: Fiskal Indonesia Disorot, Rasio Penerimaan Negara Turun Saat Pemerintah Optimis Hadapi Tekanan Utang