THE BOTTOM LINE:
- Rupiah tembus 17.500 Dolar AS dipicu ketegangan Selat Hormuz, menandai tekanan eksternal serius terhadap stabilitas pasar keuangan Indonesia
- Lonjakan permintaan Dolar AS sebagai aset aman menekan rupiah meski pertumbuhan ekonomi domestik kuartal I 2026 tetap solid
- Pelemahan kurs berpotensi memicu inflasi impor dan meningkatkan kewaspadaan terhadap harga energi serta daya beli masyarakat
BISNISNEWS.COM - Mengapa rupiah tiba-tiba menembus Rp17.500 per Dolar AS di tengah pertumbuhan ekonomi yang masih solid?
Apakah gejolak Selat Hormuz benar-benar bisa mengguncang dompet masyarakat Indonesia lewat tekanan kurs dan lonjakan harga energi?
Rupiah Tembus Rp17.500, Alarm Baru dari Gejolak Selat Hormuz
Nilai tukar rupiah kembali memasuki zona tekanan setelah menyentuh Rp17.503 per Dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Baca Juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Melemah, Investor Mulai Soroti Ketahanan Ekonomi Menghadapi Tekanan Global
Pelemahan ini terjadi ketika pasar global dibayangi eskalasi ketegangan di Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi dunia.
Data pasar menunjukkan rupiah melemah 89 poin dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414 per Dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar atas konflik geopolitik di Timur Tengah.
Penolakan proposal perdamaian oleh Amerika Serikat memicu sentimen risk-off yang mendorong investor memburu Dolar AS sebagai aset aman.
Ketegangan Global Mendorong Permintaan Dolar Sebagai Aset Aman
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak global.
Setiap eskalasi di kawasan tersebut langsung memicu kenaikan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi internasional.
Kondisi itu mendorong penguatan indeks dolar dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.