Kondisi ini berisiko mendorong inflasi melampaui target 2,5 persen, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, defisit APBN sebesar 2,48 persen berpotensi melebar akibat meningkatnya subsidi energi dan beban bunga utang luar negeri.
Daya Beli Masyarakat Menjadi Faktor Penentu Keberlanjutan Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Kusfiardi menegaskan bahwa erosi daya beli akan menjadi risiko terbesar jika tekanan harga terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Ia menyatakan, “Tanpa stabilisasi kurs yang cepat, pertumbuhan di awal tahun ini hanya akan menjadi puncak semu yang segera diikuti penurunan tajam.”
Sinkronisasi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mencegah penurunan daya beli masyarakat.****