Kondisi ini berisiko mendorong inflasi melampaui target 2,5 persen, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, defisit APBN sebesar 2,48 persen berpotensi melebar akibat meningkatnya subsidi energi dan beban bunga utang luar negeri.
Daya Beli Masyarakat Menjadi Faktor Penentu Keberlanjutan Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Kusfiardi menegaskan bahwa erosi daya beli akan menjadi risiko terbesar jika tekanan harga terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Ia menyatakan, “Tanpa stabilisasi kurs yang cepat, pertumbuhan di awal tahun ini hanya akan menjadi puncak semu yang segera diikuti penurunan tajam.”
Sinkronisasi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mencegah penurunan daya beli masyarakat.****
Artikel Terkait
Jawaban Buruh ķe Prabowo Tentang MBG Jadi Sorotan Publik, Ini Fakta Distribusi Program di Lapangan
Peringatan ExxonMobil: Harga Minyak Dunia Bisa Melonjak Akibat Ketidakseimbangan Pasokan dan Permintaan
Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kebijakan Baru Jaga Ketahanan Pangan Indonesia Saat Krisis Global Meluas
Tiongkok Kembangkan Teknologi Baru Tantang Dominasi AS dalam Persaingan Digital Global Masa Depan
KEK Keuangan Bali Disiapkan Pemerintah, Insentif Fiskal Jadi Kunci Tarik Investor Global ke Indonesia
KEK Bali Fokus Sektor Keuangan, Insentif Fiskal Disiapkan Dongkrak Daya Saing Ekonomi Nasional Indonesia
Rencana KEK Keuangan Bali Menguat, Insentif Fiskal Jadi Faktor Penentu Minat Investor Global Masuk Indonesia
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Capai 5,61 Persen, Tertinggi Lima Tahun Apa Faktor Utamanya
Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 5,61 Persen, Ini Faktor Utama dan Risiko yang Perlu Diwaspadai
Rupiah Tertekan, Ini 7 Strategi Bank Indonesia Yang Direstui Presiden untuk Stabilkan Nilai Tukar Nasional