Juri Ardiantoro menjelaskan pemerintah memilih sapi dengan standar kesehatan dan bobot tertentu untuk memastikan kelayakan hewan kurban.
“Sapi-sapi tersebut dibeli dari peternak lokal di berbagai daerah,” kata Juri Ardiantoro dalam penjelasannya kepada media nasional.
Langkah itu dinilai memberi efek ekonomi langsung kepada peternak daerah karena pembelian dilakukan dalam jumlah besar menjelang Idul Adha.
Pemerintah juga memastikan proses pengadaan mengikuti prosedur administrasi dan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum distribusi dilakukan.
Anggaran Sapi Presiden Dinilai Berdampak Pada Ekonomi Peternak Lokal Nasional
Program sapi kurban Presiden Prabowo muncul ketika pemerintah sedang mendorong penguatan sektor peternakan domestik dan ketahanan pangan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, harga sapi dan biaya distribusi hewan ternak mengalami tekanan akibat kenaikan biaya pakan serta logistik antardaerah.
Pembelian ribuan sapi oleh pemerintah berpotensi meningkatkan perputaran ekonomi peternak lokal, terutama di sentra produksi sapi nasional.
Nilai rata-rata sapi bantuan Presiden diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah per ekor berdasarkan total anggaran yang disiapkan pemerintah tahun ini.
Baca Juga: Indonesia Dorong Akses Pasar Tiongkok Demi Perkuat Ekspor Pertanian pada Forum Perdagangan APEC 2026
Kebijakan tersebut juga memunculkan perhatian publik terkait efektivitas penggunaan APBN dalam program bantuan sosial berbasis momentum keagamaan nasional.
Meski demikian, pemerintah menegaskan program tersebut merupakan tradisi bantuan Presiden yang rutin dilakukan menjelang Idul Adha setiap tahun.
Sorotan Publik Mengarah Pada Transparansi Pengadaan dan Distribusi Bantuan Kurban
Besarnya anggaran sapi kurban Presiden Prabowo membuat isu transparansi pengadaan dan pemerataan distribusi ikut menjadi perhatian masyarakat luas.