Inflasi Terkendali Tetapi Tekanan Ekonomi Berpindah ke Kurs
Fakhrul menjelaskan kenaikan harga energi global dalam kondisi normal akan memengaruhi inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar secara bersamaan.
Namun penyesuaian harga domestik yang dilakukan secara hati-hati untuk menjaga daya beli masyarakat membuat sebagian tekanan berpindah ke pasar valuta asing.
“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” katanya.
Ia menegaskan kondisi tersebut sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting ketika pasar keuangan bergerak lebih cepat dibandingkan penyesuaian harga domestik.
Koordinasi Kebijakan Menjadi Sorotan Utama Pelaku Pasar
Meski rupiah mengalami tekanan, Fakhrul menilai fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.795 per Dolar AS, Purbaya Sebut Kondisi Pasar Keuangan Nasional Tidak Masuk Akal
Inflasi masih terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih berada dalam jalur positif.
Namun pasar saat ini lebih fokus mengamati konsistensi kebijakan dan keberadaan policy anchor yang mampu memberikan kepastian di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi eksternal, tekanan datang dari penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, serta fragmentasi perdagangan dunia.
Dunia Usaha Mulai Menghadapi Tekanan Ganda Berkepanjangan
Fakhrul menilai pelemahan rupiah dan tingginya biaya pendanaan mulai berdampak pada sektor riil.
Banyak industri manufaktur masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, energi, serta pembiayaan yang sensitif terhadap pergerakan kurs dan suku bunga.
“Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka korporasi tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” ujarnya.