THE BOTTOM LINE:
- Rupiah menembus Rp17.800 per Dolar AS meski BI Rate naik, memicu kekhawatiran pasar keuangan domestik.
- Penguatan Dolar AS dan keluarnya modal asing dinilai menjadi faktor utama tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
- Pelemahan rupiah berpotensi menaikkan biaya impor, inflasi, dan beban operasional korporasi nasional tahun ini.
BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah hingga Rp17.800 per Dolar AS menjadi sinyal tekanan ekonomi nasional semakin berat tahun ini?
Mengapa kenaikan BI Rate belum mampu menahan laju pelemahan rupiah yang terus memicu kekhawatiran pelaku pasar dan masyarakat Indonesia?
Rupiah Tembus Rp17.800 Picu Kekhawatiran Pelaku Pasar dan Dunia Usaha Nasional
Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menembus Rp17.800 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, 28/05/2026.
Pelemahan rupiah terjadi meski Bank Indonesia (BI) sebelumnya menaikkan BI Rate untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar karena tekanan kurs berpotensi meningkatkan biaya impor dan harga bahan baku industri nasional.
Media ekonomi sebelumnya juga melaporkan penguatan Dolar AS masih menjadi faktor dominan yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Baca Juga: Pemerintah Tunda Ekspor Lewat Danantara Hingga 2027 Demi Stabilitas Devisa dan Perdagangan Nasional
Kenaikan BI Rate Dinilai Belum Efektif Menahan Tekanan Mata Uang Rupiah
Tekanan terhadap rupiah dinilai masih kuat akibat sentimen global dan tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat.
Dalam laporam, pelaku pasar mencermati keluarnya aliran modal asing dari pasar domestik selama tekanan global meningkat.
“Kondisi global masih memberi tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah,” demikian pernyataan dalam laporan tersebut.
Laporan menyoroti pelemahan rupiah terus berlangsung meski Bank Indonesia telah mengambil langkah stabilisasi melalui kebijakan suku bunga.