Sementara itu, kelompok kelas menengah dan masyarakat rentan justru menghadapi tekanan akibat mahalnya kebutuhan pokok dan sulitnya lapangan pekerjaan.
“Ekonomi itu memang tumbuh, tapi ekonomi itu hanya dinikmati oleh kelas atas,” kata Media Wahyudi Askar.
Baca Juga: Viral Dugaan Kebocoran Data Mobile Banking BCA di Dark Web, Isu Peretasan Picu Kekhawatiran Nasabah
Data Badan Pusat Statistik sebelumnya menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran lima persen pada beberapa kuartal terakhir.
Namun, sejumlah lembaga riset juga mencatat tekanan terhadap konsumsi rumah tangga akibat kenaikan harga pangan dan biaya hidup masyarakat.
Program Pemerintah Diminta Dievaluasi Berdasarkan Kajian Akademik Mendalam Nasional
Media Wahyudi Askar turut mengkritik sejumlah program pemerintah yang dinilai belum berbasis kebutuhan riil masyarakat dan kajian akademik mendalam.
Baca Juga: Sentralisasi Ekspor SDA dan Pembentukan Danantara DSI Picu Koreksi Tajam IHSG pada Perdagangan Kamis
Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai berpotensi membebani fiskal negara apabila tidak dievaluasi.
Menurutnya, kebijakan publik seharusnya dibangun berdasarkan riset, data lapangan, dan mitigasi risiko yang matang.
Ia juga meminta pemerintah lebih terbuka terhadap masukan akademisi agar komunikasi publik tidak menimbulkan ketidakpastian baru di masyarakat.
“Solusinya sebetulnya cuma dua, moratorium dan redesign ulang program itu,” ujar Media Wahyudi Askar.
Komunikasi Pemerintah Dinilai Kurang Menunjukkan Empati Kepada Masyarakat Luas
Sementara itu, Gilang Desti Parahita menilai persoalan utama komunikasi pemerintah saat ini terletak pada minimnya empati terhadap kondisi masyarakat.
Ia menyebut pidato dan komunikasi publik pemerintah cenderung dipenuhi jargon optimisme tanpa pengakuan atas keresahan rakyat.