THE BOTTOM LINE:
- Kritik akademisi UGM menyoroti jarak narasi optimisme pemerintah dengan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat sehari-hari.
- Pelemahan rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan turunnya daya beli memicu meningkatnya keresahan publik nasional.
- Akademisi meminta kebijakan ekonomi pemerintah berbasis riset, empati publik, serta evaluasi program prioritas nasional.
BISNISNEWS.COM - Apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat saat harga kebutuhan pokok terus naik?
Mengapa narasi optimisme pemerintah justru memicu kritik di tengah tekanan rupiah dan melemahnya daya beli publik?
Akademisi UGM Soroti Jarak Narasi Pemerintah dan Kondisi Publik
Keresahan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional dinilai semakin meningkat seiring pelemahan rupiah, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan menurunnya daya beli masyarakat.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.700, BI Tegaskan Kondisi Ekonomi Berbeda dengan Krisis Moneter 1998 Sekarang
Isu tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk Menguji Narasi Optimisme Negara di Balik Gejolak Ekonomi Nasional di Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (19/5/2026).
Diskusi menghadirkan Dosen Departemen Manajemen Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Media Wahyudi Askar, serta Dosen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Gilang Desti Parahita.
Media Wahyudi Askar menilai pemerintah terlalu fokus menjaga stabilitas narasi ekonomi dibanding membaca kondisi riil masyarakat di lapangan.
Baca Juga: IHSG Rebound Ditopang Saham Energi dan Barang Baku Setelah Sempat Menyentuh Level Psikologis Penting
Ia menyebut masyarakat kini lebih kritis karena memiliki akses informasi yang luas dan merasakan langsung tekanan ekonomi sehari-hari.
“Problem terbesar hari ini adalah terlalu jauh antara angka yang dinarasikan oleh pemerintah dengan realita di lapangan,” ujar Media Wahyudi Askar.
Tekanan Daya Beli Dinilai Memicu Turunnya Kepercayaan Publik Nasional
Menurut Media, pertumbuhan ekonomi nasional belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Baca Juga: BI Ungkap Penyebab Rupiah Melemah Hingga Rp17.700 Per Dolar AS di Tengah Tekanan Ekonomi Global
Ia menilai manfaat pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati kelompok elite yang memiliki akses modal dan aset besar.