Menurut Purbaya, stabilitas pasar obligasi menjadi fokus penting dalam meredam gejolak nilai tukar.
Ia menegaskan pemerintah menyiapkan skenario agar volatilitas tidak berkembang menjadi tekanan sistemik terhadap sektor keuangan.
Baca Juga: Dugaan Fraud Telkom Rp5 Triliun Diselidiki Regulator AS, Apa Dampaknya Bagi Saham TLKM dan Investor
Pasar Obligasi Jadi Benteng Pertama Redam Gejolak Rupiah
Langkah koordinasi tersebut mengarah pada penguatan intervensi di pasar surat berharga negara.
Strategi ini dinilai penting karena pergerakan yield obligasi sangat memengaruhi persepsi risiko investor asing.
Ketika yield melonjak tajam, tekanan terhadap rupiah biasanya ikut meningkat melalui arus keluar modal.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Diprediksi Melambat Pada Kuartal II 2026, Bank Mandiri Ungkap Penyebab Utamanya
Pemerintah dan otoritas moneter berupaya menjaga keseimbangan agar pasar obligasi tetap likuid.
Langkah serupa pernah ditempuh pada periode tekanan global sebelumnya saat volatilitas pasar meningkat tajam.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Picu Arus Safe Haven
Pelemahan rupiah juga dipicu ekspektasi bahwa The Federal Reserve belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Pelaku pasar menilai inflasi Amerika Serikat yang belum sepenuhnya terkendali membuat kebijakan moneter ketat masih dipertahankan.
Kondisi ini mendorong investor global memburu dolar AS sebagai aset lindung nilai.
Tekanan bertambah akibat ketidakpastian geopolitik yang mengangkat harga energi dunia.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.300 Per Dolar AS, IHSG Turun Tajam Picu Kekhawatiran Pelaku Pasar Domestik