THE BOTTOM LINE:
- Harga minyak dunia berpotensi melonjak akibat ketegangan geopolitik dan pasokan terbatas, memicu kekhawatiran pasar energi global.
- CEO ExxonMobil menilai ketidakseimbangan suplai dan permintaan menjadi faktor utama tekanan harga minyak ke depan.
- Lonjakan harga minyak berisiko meningkatkan inflasi global dan beban ekonomi negara berkembang seperti Indonesia
BISNISNEWS.COM - Apakah harga minyak dunia akan kembali melonjak dan membebani ekonomi global dalam waktu dekat?
Seberapa besar dampaknya bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi di tengah ketidakpastian geopolitik global?
Proyeksi Kenaikan Harga Minyak Dipicu Ketegangan Global dan Permintaan Energi
Harga minyak dunia berpotensi melonjak lebih tinggi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan prospek permintaan energi global yang tetap kuat menurut pernyataan pimpinan korporasi energi global.
Baca Juga: Kejagung Kaji Vonis Bebas Tiga Eks Bos Bank Dalam Kasus Kredit Korporasi PT Sritex Nasional
Chief Executive Officer ExxonMobil, Darren Woods, menyampaikan bahwa faktor geopolitik dan dinamika pasokan global menjadi pendorong utama potensi kenaikan harga minyak dalam waktu mendatang.
Ia menilai ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan dapat menciptakan tekanan harga, terutama ketika produksi tidak mampu mengimbangi lonjakan konsumsi energi global.
Faktor Geopolitik dan Pasokan Global Jadi Penentu Harga Minyak
Darren Woods menegaskan bahwa ketidakpastian geopolitik terus menjadi faktor dominan dalam menentukan arah harga minyak dunia.
Baca Juga: Papua Jadi Simpul Digital Asia Pasifik, Perkuat Konektivitas Internasional Melalui Kabel Laut Pukpuk
Menurutnya, konflik dan gangguan pasokan di sejumlah wilayah produsen utama dapat memicu lonjakan harga secara signifikan dalam waktu relatif singkat.
Ia juga menyebutkan bahwa investasi di sektor energi yang belum optimal berpotensi memperketat pasokan global di tengah permintaan yang terus meningkat.
Dampak Kenaikan Harga Minyak Terhadap Ekonomi dan Inflasi Global
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global, terutama pada sektor transportasi dan logistik yang sangat bergantung pada energi fosil.
Baca Juga: Prima Armada Raya Perkuat Pembiayaan Strategis Demi Ekspansi Armada dan Bisnis Mobilitas Nasional
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, lonjakan harga minyak dapat meningkatkan beban subsidi energi serta memperlebar defisit neraca perdagangan.
Artikel Terkait
KPK Bongkar Dugaan Suap Impor Barang, Nama Dirjen Bea Cukai Jadi Sorotan Publik Nasional Hari Ini
Kemenkei Beri Pendampingan Hukum Setelah Nama Dirjen Bea Cukai Disebut dalam Dakwaan KPK Resmi
Mantan Dirut Bank BJB Resmi Bebas dalam Kasus Kredit Sritex Setelah Putusan Pengadilan Tipikor Dibacakan
Mengapa Mantan Dirut Bank BJB Dibebaskan dalam Perkara Kredit Sritex Oleh Pengadilan Tipikor Semarang
Putusan Kasus Kredit Sritex Dinilai Penting Bagi Industri Perbankan Setelah Mantan Dirut Bank BJB Dibebaskan
Bank BSN Tembus Rp73 Triliun dan Jadi Raksasa Baru Perbankan Syariah Indonesia Usai Transformasi BTN
Aset Bank BSN Melonjak 2.104 Persen Setelah Spin Off BTN Syariah, Apa Dampaknya Bagi Industri
Prima Armada Raya Perkuat Pembiayaan Strategis Demi Ekspansi Armada dan Bisnis Mobilitas Nasional
Papua Jadi Simpul Digital Asia Pasifik, Perkuat Konektivitas Internasional Melalui Kabel Laut Pukpuk
Kejagung Kaji Vonis Bebas Tiga Eks Bos Bank Dalam Kasus Kredit Korporasi PT Sritex Nasional