Ia menyebut kebijakan ini diharapkan langsung meningkatkan pendapatan bersih pengemudi ojol di tengah tekanan biaya bahan bakar dan kebutuhan harian.
“Paling pertama adalah menurunkan biaya yang diambil aplikator menjadi 8 persen dari sebelumnya,” kata Sufmi Dasco Ahmad.
Penurunan ini menjadi isu krusial karena selama ini besaran potongan menjadi sumber utama keluhan driver di berbagai kota besar.
Status Mitra Atau Pekerja Masih Dalam Tahap Simulasi Pemerintah
Terkait tuntutan perubahan status dari mitra menjadi pekerja tetap, Dasco menyebut pemerintah masih melakukan simulasi dan kajian mendalam.
Ia menekankan keputusan tersebut tidak bisa diambil tergesa-gesa karena menyangkut aspek hukum, bisnis, dan keberlanjutan ekosistem digital.
Baca Juga: Mengapa Rupiah Melemah Hingga Rp17000 Saat Data Ekonomi Stabil- Ini Peran Noise dan Sentimen Pasar
“Nah, pembahasan apakah menjadi pekerja atau mitra masih disimulasikan,” ujar Sufmi Dasco Ahmad.
Pemerintah juga berkomitmen melibatkan organisasi pengemudi dalam proses perumusan kebijakan agar hasilnya lebih adil dan implementatif.
Dialog Dengan Organisasi Ojol Jadi Kunci Penentuan Kebijakan Akhir
Dasco memastikan organisasi pengemudi ojol akan diajak berdiskusi langsung sebelum keputusan final mengenai status kerja ditetapkan pemerintah.
Menurutnya, pendekatan dialog diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan driver, korporasi aplikator, dan stabilitas industri.
Ia menambahkan keterlibatan Danantara sebagai entitas investasi negara menjadi bagian penting dalam transformasi kebijakan sektor ini.
Dengan langkah ini, pemerintah mencoba membangun model baru hubungan industrial di sektor digital yang lebih adaptif dan berkeadilan.****