• Kamis, 4 Juni 2026

Tiongkok Tolak Sanksi Amerika Serikat Atas Kilang Minyak Iran Picu Ketegangan Energi Global Dunia

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Senin, 4 Mei 2026 | 10:13 WIB
Presiden Xi Jinping. Kilang minyak Iran menjadi simbol konflik energi global antara kekuatan besar dunia.  (Instagram.com @xi_jinping_official)
Presiden Xi Jinping. Kilang minyak Iran menjadi simbol konflik energi global antara kekuatan besar dunia. (Instagram.com @xi_jinping_official)

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi konsisten Tiongkok yang sebelumnya juga menentang kebijakan serupa dalam berbagai isu internasional.

Latar Belakang Ketegangan Sanksi Iran dan Hubungan Global Energi

Sanksi terhadap Iran telah berlangsung sejak bertahun-tahun, terutama terkait program nuklir yang menjadi perhatian komunitas internasional.

Baca Juga: Desakan Tersangka Proyek Suralaya PLN Menguat, Dugaan Aliran Dana Dan TPPU Jadi Sorotan Penyidik Kejati DKI

Amerika Serikat secara konsisten memberlakukan pembatasan terhadap sektor energi Iran sebagai bagian dari tekanan ekonomi dan diplomatik.

Namun, sejumlah negara termasuk Tiongkok tetap menjalin hubungan perdagangan energi dengan Iran, menciptakan dinamika kompleks dalam geopolitik global.

Implikasi Bagi Indonesia dan Negara Berkembang di Tengah Konflik

Ketegangan ini berpotensi memengaruhi harga energi domestik di Indonesia, terutama jika terjadi lonjakan harga minyak global dalam waktu dekat.

Baca Juga: Sidak Mentan Ungkap Data Bibit Tidak Sesuai di Manado, Pengawasan Program Pertanian Diperketat

Sebagai negara importir energi, Indonesia perlu mencermati perkembangan ini untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.

Pengamat menilai bahwa eskalasi konflik dapat memperbesar risiko inflasi serta meningkatkan tekanan terhadap sektor energi nasional.****

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini