“Ya, saya stres, nggak ada stress test, kita sudah hitung waktu simulasi 100 dolar per barel itu,” kata Purbaya.
Pemerintah menilai struktur APBN 2026 masih cukup kuat untuk meredam dampak gejolak nilai tukar dalam jangka pendek.
Kondisi tersebut dinilai penting karena pelemahan rupiah dapat memengaruhi beban impor energi, pembayaran utang luar negeri, dan biaya bahan baku industri nasional.
Meski demikian, pemerintah memastikan stabilitas fiskal tetap terjaga melalui pengawasan pasar keuangan dan pengendalian belanja negara.
Yield Obligasi Turun Setelah Pemerintah Lakukan Intervensi Pasar
Di tengah tekanan rupiah, pemerintah mencatat imbal hasil atau yield obligasi Indonesia justru mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.
Purbaya menyebut penurunan yield terjadi setelah pemerintah melakukan aksi pembelian Surat Berharga Negara atau SBN di pasar.
“Tapi gini, walaupun rupiah melemah, bond yield-nya turun karena aksi pemerintah,” ujar Purbaya.
Intervensi tersebut dilakukan Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk menjaga stabilitas pasar obligasi nasional.
Menurut Purbaya, stabilitas obligasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor asing terhadap pasar keuangan Indonesia.
Ia juga menyebut arus modal asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi domestik dalam beberapa waktu terakhir.
Pemerintah Siapkan Langkah Baru Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
Pemerintah memastikan akan menyiapkan langkah lanjutan untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar domestik.
Baca Juga: Seleksi Ketat P3MD Saring 6.000 Peserta Jadi Pemimpin Masa Depan BUMN Pilihan Pemerintah Indonesia