Aida menegaskan kebijakan tersebut bertujuan menstabilkan harga obligasi pemerintah agar tidak mengalami gejolak tajam di pasar keuangan.
Bank Indonesia juga memperketat pembelian Dolar AS di pasar domestik bagi pihak yang tidak memiliki kebutuhan transaksi jelas atau underlying.
Baca Juga: Sentralisasi Ekspor SDA dan Pembentukan Danantara DSI Picu Koreksi Tajam IHSG pada Perdagangan Kamis
Defisit Transaksi Berjalan Menjadi Tantangan Fundamental Ekonomi Indonesia
Aida menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi kondisi transaksi berjalan Indonesia yang masih mengalami defisit atau rapor merah.
Menurut dia, defisit terjadi karena pembayaran Indonesia ke luar negeri lebih besar dibanding penerimaan dari perdagangan internasional.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan Dolar AS meningkat sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka menengah.
Selain transaksi berjalan, arus modal asing ke Indonesia juga mengalami perlambatan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Bank Indonesia kini berupaya menjaga daya tarik pasar domestik agar investor asing tetap menempatkan modalnya di Indonesia.
Kondisi Rupiah Dinilai Berbeda Dibanding Krisis Moneter Tahun 1998
Aida menegaskan situasi saat ini berbeda dibanding krisis moneter 1998 ketika rupiah jatuh dari Rp2.300 menuju Rp17.000 dalam periode singkat.
Menurut dia, tekanan pada masa krisis terjadi secara mendadak sehingga mengguncang sektor keuangan, korporasi, dan aktivitas ekonomi nasional.
Sementara pelemahan rupiah tahun 2026 dinilai berlangsung lebih terkendali dengan respons kebijakan moneter yang lebih cepat dan terukur.
Sebagai latar belakang, Bank Indonesia sebelumnya juga memperkuat strategi stabilisasi melalui operasi moneter dan penguatan cadangan devisa nasional.
Baca Juga: IHSG Anjlok Setelah Rencana BUMN Ekspor SDA Muncul, Investor Soroti Risiko Regulasi Baru Nasional