Pernyataan itu senada dengan optimisme BI bahwa tekanan akan mereda memasuki Juli 2026.
Sebelumnya, Bank Indonesia juga beberapa kali melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menahan tekanan yang lebih tajam.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Mengapa Defisit Fiskal dan Pelemahan Rupiah Membayangi Stabilitas
Pelemahan Rupiah Dipengaruhi Sentimen Global dan Faktor Musiman
Data pasar menunjukkan penguatan dolar AS terjadi hampir merata terhadap mata uang emerging market.
Ekspektasi penundaan penurunan suku bunga Federal Reserve membuat investor global bertahan di aset berbasis dolar AS.
Tekanan geopolitik global turut memperkuat preferensi pasar terhadap instrumen safe haven.
Baca Juga: DPR Panggil Danantara Soal GoTo, Apa Makna Investasi Digital Bagi Masa Depan Korporasi Negara
Di sisi domestik, kebutuhan dolar untuk pembayaran dividen korporasi dan kewajiban utang luar negeri memperbesar permintaan valas.
Kombinasi faktor tersebut menjadi alasan utama BI menyebut pelemahan ini bersifat musiman.
Namun, sebagian pelaku pasar menilai tekanan berkepanjangan dapat memengaruhi persepsi terhadap daya tahan ekonomi nasional.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah dan Konflik Timur Tengah, Tekanan Kurs Kini Dinilai Lebih Berat Bagi Perekonomian
Ujian Kredibilitas Kebijakan Menjelang Semester Kedua Tahun Ini
Pelemahan rupiah kini menjadi ujian penting bagi kredibilitas kebijakan moneter Indonesia.
Jika proyeksi BI bahwa rupiah menguat pada semester kedua terbukti, kepercayaan pasar akan kembali terjaga.
Sebaliknya, tekanan berkepanjangan dapat memunculkan ekspektasi pengetatan kebijakan suku bunga.