Dalam kondisi demikian, depresiasi rupiah menjadi konsekuensi ekonomi yang sulit dihindari.
Ia mencatat, selama ini tekanan tersebut kerap tertahan oleh masuknya aliran Dolar AS dari utang luar negeri maupun investasi asing langsung.
Baca Juga: DPR Panggil Danantara Soal GoTo, Apa Makna Investasi Digital Bagi Masa Depan Korporasi Negara
Namun pada awal 2026, kondisi tersebut dinilai belum cukup kuat menopang stabilitas eksternal.
Data menunjukkan cadangan devisa turun sebesar 10,3 miliar Dolar AS selama empat bulan pertama 2026.
Posisi cadangan devisa tercatat turun dari 156,5 miliar Dolar AS menjadi 146,2 miliar Dolar AS.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah dan Konflik Timur Tengah, Tekanan Kurs Kini Dinilai Lebih Berat Bagi Perekonomian
Menurut Anthony, bila tren ini berlanjut, rupiah berpotensi menembus Rp18.000 dan mengarah ke Rp20.000 per Dolar AS.
Deindustrialisasi Dini Dinilai Memperburuk Fundamental Ekonomi
Anthony menilai pelemahan kurs juga dipicu menurunnya kontribusi sektor manufaktur terhadap produk domestik bruto nasional.
Fenomena deindustrialisasi dini dinilai menggerus kemampuan korporasi nasional menghasilkan devisa melalui ekspor bernilai tambah tinggi.
Kondisi tersebut membuat daya tahan eksternal ekonomi Indonesia melemah dibanding negara pesaing kawasan.
Sebagai pembanding, ia menyebut nilai ekspor Vietnam telah mencapai 1,6 kali lebih besar dibanding Indonesia.
Menurutnya, stagnasi ekspor membuat ketergantungan pada pembiayaan luar negeri semakin tinggi.
Baca Juga: Serangan Drone di UEA Picu Harga Minyak Naik Ke 110 Dolar AS, Apa Efeknya untuk Ekonomi Global