THE BOTTOM LINE:
- Danantara masuk saham GoTo memicu sorotan DPR sebagai ujian awal transparansi investasi strategis korporasi negara di sektor digital nasional.
- Komisi VI DPR menilai keputusan investasi Danantara perlu penjelasan rinci agar publik memahami dasar bisnis dan mitigasi risiko.
- Langkah akuisisi saham GoTo dinilai menjadi indikator penting arah kebijakan investasi digital Indonesia di tengah volatilitas pasar modal.
BISNISNEWS.COM - Mengapa Danantara memilih masuk ke saham GoTo saat sorotan publik terhadap investasi digital korporasi negara belum reda?
Apakah langkah ini menjadi strategi membangun kedaulatan ekonomi digital, atau justru membuka babak baru pertaruhan dana publik di tengah volatilitas saham teknologi?
Langkah Danantara Picu Sorotan Baru Pasar Modal Nasional
Masuknya Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara ke saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk memantik perhatian publik dan parlemen.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.500 Per Dolar AS, Seberapa Besar Ancaman Kenaikan Harga Bagi Ekonomi Saat Ini
Langkah ini segera memunculkan perdebatan karena terjadi saat rekam jejak investasi korporasi pelat merah di emiten teknologi masih menjadi sorotan.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menyatakan pihaknya akan memanggil Danantara dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk untuk meminta penjelasan rinci.
Menurut Andre Rosiade selaku Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, transparansi diperlukan agar publik memahami dasar pengambilan keputusan investasi tersebut.
Pernyataan itu merujuk pada pemberitaan sebelumnya mengenai investasi Telkomsel di GoTo yang sempat menimbulkan tekanan valuasi.
Masuknya Danantara dinilai menjadi momentum penting untuk menguji tata kelola investasi strategis nasional.
Bayang-Bayang Investasi Telkom Jadi Alarm Bagi Publik Kini
Sebelumnya, investasi Telkomsel di GoTo menjadi perhatian setelah nilai investasinya tertekan seiring pelemahan saham teknologi.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kehati-hatian korporasi negara dalam menempatkan dana pada sektor berisiko tinggi.
Konteks inilah yang membuat langkah Danantara langsung mendapat respons kritis dari berbagai kalangan.