THE BOTTOM LINE:
- Transisi energi mempercepat penggunaan kendaraan listrik dan panel surya, namun memunculkan ancaman limbah elektronik baru.
- Baterai EV dan panel surya yang habis masa pakai berpotensi menjadi limbah B3 dalam jumlah besar.
- Pakar mendorong ekonomi sirkular, AI, dan blockchain untuk mengelola siklus hidup komponen energi bersih.
BISNISNEWS.COM - Apakah kendaraan listrik dan panel surya benar-benar menjamin masa depan yang bersih bagi Indonesia?
Bagaimana jika teknologi yang hari ini dianggap solusi energi justru meninggalkan jutaan ton limbah berbahaya pada dekade mendatang yang belum siap ditangani secara nasional?
Ancaman Tersembunyi di Balik Kesuksesan Transisi Energi Nasional
Transisi energi menjadi salah satu agenda strategis menuju Indonesia Emas 2045 melalui percepatan penggunaan kendaraan listrik dan pembangkit listrik tenaga surya.
Namun di balik optimisme tersebut, muncul tantangan baru berupa limbah elektronik atau e-waste yang berpotensi meningkat tajam dalam beberapa tahun mendatang.
Pakar teknologi dan futurologi, Dr. Drs. Yehu Wangsajaya, MKom, mengingatkan bahwa ancaman tersebut perlu diantisipasi sejak sekarang.
"Transisi energi adalah langkah yang tepat, tetapi kita tidak boleh mengabaikan risiko limbah elektronik yang akan muncul setelah masa pakai berakhir," ujarnya.
Baterai Kendaraan Listrik dan Panel Surya Menuju Akhir Siklus
Baterai kendaraan listrik umumnya mengalami penurunan performa setelah delapan hingga sepuluh tahun penggunaan normal.
Kondisi serupa juga berlaku pada panel surya yang memiliki usia operasional terbatas sebelum memasuki fase penggantian.
Menurut Yehu Wangsajaya, jutaan ton baterai lithium dan panel surya berpotensi menjadi limbah B3 pada dekade 2030-an apabila tidak dikelola secara sistematis.
Baca Juga: Mengapa Indonesia Belum Menjadi Negara Maju Meski Kaya SDA dan Bonus Demografi yang Sangat Besar
"Jangan sampai energi yang disebut bersih hari ini berubah menjadi sumber pencemaran lingkungan pada masa depan," katanya.