• Kamis, 4 Juni 2026

Indonesia Pangkas Produksi Nikel 2026, Filipina Muncul Alternatif Global Namun Kapasitas Dinilai Masih Terbatas.

Photo Author
Tim Bisnis News, Bisnisnews.com
- Rabu, 29 April 2026 | 10:55 WIB
Ilustrasi komoditas nikel. Aktivitas tambang nikel di Indonesia yang menopang lebih dari 60 persen pasokan global kini menghadapi penyesuaian produksi signifikan.  (Dok. Kreasi Dola AI)
Ilustrasi komoditas nikel. Aktivitas tambang nikel di Indonesia yang menopang lebih dari 60 persen pasokan global kini menghadapi penyesuaian produksi signifikan. (Dok. Kreasi Dola AI)

Sana Ur Rehman, Financial Market Analyst EBC Financial Group, menyatakan Filipina hanya mampu berperan terbatas sebagai alternatif pemasok bijih nikel.

Ia menegaskan belum ada negara yang mampu menggantikan dominasi Indonesia dalam satu hingga tiga tahun ke depan.

Baca Juga: Profil Jumhur Hidayat Menteri Lingkungan Hidup Baru, Dari Aktivis Jalanan Menuju Pengambil Kebijakan Strategis

Hambatan Hilirisasi dan Infrastruktur Batasi Peran Filipina Secara Global

Keterbatasan Filipina tidak hanya pada volume produksi, tetapi juga pada lemahnya kapasitas hilirisasi industri nikel domestik.

Negara tersebut masih bergantung pada ekspor bijih mentah karena tingginya biaya energi dan terbatasnya infrastruktur industri.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan dan proses perizinan yang lambat menjadi hambatan utama dalam pengembangan industri pengolahan nikel.

Baca Juga: Ketergantungan Impor LPG Tinggi, Pemerintah Kaji DME dan CNG Sebagai Solusi Energi Nasional Masa Depan

Di luar Asia, peningkatan produksi di Australia dan Kanada juga terkendala investasi besar serta waktu pengembangan proyek yang panjang.

Situasi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama yang belum tergantikan dalam ekosistem nikel global.

Langkah Strategis Pemerintah Perkuat Kendali Aset Nikel Domestik Nasional

Di tengah dinamika pasar, pemerintah mulai memperkuat kontrol terhadap aset strategis di sektor pertambangan nikel nasional.

Baca Juga: Konflik Selat Hormuz Tak Berdampak Signifikan Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman Terjaga

Salah satunya melalui rencana Danantara yang mempertimbangkan akuisisi 38,7 persen saham milik Eramet di PT Weda Bay Nickel.

Tambang tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia dengan struktur kepemilikan melibatkan korporasi asal Tiongkok dan Indonesia.

Produksi Weda Bay Nickel mencapai 36,3 metrik ton pada 2023 dengan tambahan output dari fasilitas RKEF sekitar 30 ribu ton nikel.

Baca Juga: Presiden Prabowo Instruksikan Penanganan Korban Kecelakaan Kereta Bekasi dan Investigasi Menyeluruh

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Budi Purnomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini