THE BOTTOM LINE:
- Pelemahan rupiah dinilai terkait krisis kepercayaan pasar, Didik J Rachbini menilai reformasi institusi menjadi kunci pemulihan nilai tukar
- Nilai tukar rupiah undervalue menjadi sinyal perlunya reformasi struktural yang berorientasi pada daya saing dan ekspor
- Reformasi birokrasi dan iklim investasi menjadi faktor strategis untuk menjaga rupiah tetap kompetitif
BISNISNEWS.COM - Mengapa rupiah terus tertekan meski fundamental ekonomi dinilai cukup terjaga?
Bisakah pengalaman pemulihan krisis era Presiden B.J. Habibie menjadi formula membalikkan arah nilai tukar saat ini?
Pelemahan Rupiah Cerminkan Krisis Kepercayaan Pasar Saat Ini
Nilai tukar rupiah yang terus melemah dinilai bukan semata persoalan teknis moneter, melainkan sinyal melemahnya kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menilai kondisi rupiah yang kini disebut undervalue mencerminkan persoalan ekonomi politik.
Menurut Didik J Rachbini, akar persoalan terletak pada trust pasar yang mulai tergerus sehingga arus modal keluar meningkat dan menekan stabilitas nilai tukar.
Ia menegaskan, pelemahan rupiah harus dibaca sebagai alarm bagi perlunya reformasi institusi yang konsisten dan terukur.
Baca Juga: Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Daya Beli, Tekanan Dolar AS Kini Terasa Sampai Pasar Tradisional
Background ini mengingatkan publik pada krisis moneter 1998 ketika gejolak rupiah sempat menyentuh Rp16.800 per Dolar AS.
Pengalaman Habibie Menjadi Acuan Pemulihan Nilai Tukar Nasional
Didik J Rachbini menyebut pengalaman pemerintahan Presiden B. J. Habibie layak menjadi rujukan kebijakan.
Ia mengatakan dirinya terlibat langsung dalam Tim Nasional Reformasi pada 1998 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 198 Tahun 1998.
Menurutnya, keberhasilan menurunkan kurs dari Rp16.800 menjadi sekitar Rp6.500 per Dolar AS ditopang pemulihan kepercayaan.