finansial

Rupiah Nyaris Rp18.000, Mengapa Konglomerat Mulai Cemas Ancaman Resesi Global Semakin Membesar

Jumat, 29 Mei 2026 | 09:25 WIB
Perdagangan valuta asing menampilkan kurs rupiah yang sempat menyentuh Rp17.900 per Dolar AS di tengah tekanan ekonomi global terbaru. (Dok. Kreasi Dola AI)

Permintaan dolar meningkat cukup tinggi dari pelaku usaha dan investor institusi.

Situasi tersebut membuat pelaku pasar mulai memperkirakan kemungkinan volatilitas rupiah masih bertahan dalam jangka pendek.

Baca Juga: BI Ungkap Fakta Terbaru Utang Luar Negeri dan Dampaknya Bagi Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Kekhawatiran Resesi Global Membayangi Aktivitas Korporasi Besar Nasional

Survei perbankan internasional menunjukkan sejumlah konglomerat mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perlambatan ekonomi dunia pada semester kedua tahun ini.

Kekhawatiran tersebut dipicu ketidakpastian geopolitik global, perlambatan perdagangan internasional, dan risiko suku bunga tinggi berkepanjangan di berbagai negara besar.

Pelaku korporasi besar mulai memperhatikan strategi efisiensi, pengelolaan arus kas, dan pengamanan kebutuhan valuta asing untuk menghadapi tekanan pasar.

Baca Juga: Saham CMNP dan BHIT Bergerak Berlawanan Usai Kemenangan Gugatan Jusuf Hamka Atas Hary Tanoe

Kondisi global saat ini mengingatkan pasar terhadap periode volatilitas rupiah ketika tekanan eksternal menyebabkan lonjakan permintaan Dolar AS domestik.

Sebelumnya, sejumlah media mainstream nasional juga memberitakan peningkatan kewaspadaan investor terhadap potensi perlambatan ekonomi global sepanjang 2026.

Tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi arus modal asing yang bergerak hati-hati menunggu kepastian arah kebijakan moneter global berikutnya.

Baca Juga: Kode Amplop Nomor Satu dalam Sidang Bea Cukai Picu Sorotan Publik Terhadap Dugaan Suap Importasi

Pelemahan Rupiah Berpotensi Mempengaruhi Harga Barang dan Investasi Domestik

Pelemahan rupiah biasanya berdampak terhadap kenaikan biaya impor bahan baku, produk elektronik, pangan, hingga kebutuhan industri nasional.

Korporasi yang memiliki kewajiban pembayaran dalam Dolar AS juga berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional ketika kurs terus bergejolak.

Di sisi lain, investor domestik mulai mencermati pergerakan pasar obligasi, saham, dan harga komoditas akibat perubahan sentimen global terbaru.

Baca Juga: Jaya Suprana Jelaskan Mengapa Kenaikan Dolar AS Tetap Berpengaruh Pada Daya Beli Warga Desa Indonesia

Halaman:

Tags

Terkini