THE BOTTOM LINE:
- Ketergantungan impor LPG Indonesia masih tinggi mencapai 7 juta ton per tahun karena produksi domestik terbatas.
- Pemerintah dorong alternatif energi seperti DME dan CNG untuk kurangi impor LPG dan perkuat ketahanan energi nasional.
- Stok BBM nasional tetap aman meski geopolitik Timur Tengah memanas dan berpotensi ganggu distribusi energi global
BISNISNEWS.COM - Apakah Indonesia akan terus bergantung pada impor LPG di tengah konsumsi yang terus meningkat setiap tahun?
Mampukah pemerintah menghadirkan solusi energi alternatif yang lebih mandiri, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat luas?
Strategi Pemerintah Mengurangi Ketergantungan Impor LPG Nasional Secara Bertahap dan Terukur
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus merumuskan strategi untuk menekan ketergantungan impor LPG yang mencapai jutaan ton per tahun.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya 1,6 hingga 1,7 juta ton.
Menurut Bahlil Lahadalia, kondisi ini membuat Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
DME Berbasis Batu Bara Jadi Opsi Substitusi LPG Domestik
Pemerintah mulai mendorong pengembangan Dimethyl Ether atau DME sebagai salah satu solusi substitusi LPG berbasis sumber daya dalam negeri.
Bahlil Lahadalia menjelaskan DME dapat diproduksi melalui hilirisasi batu bara kalori rendah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kalau DME itu dari batu bara low calorie, kemudian dia dilakukan hilirisasi, dan dia menjadi substitusi pengganti daripada LPG,” ujar Bahlil Lahadalia.
CNG Dipertimbangkan Sebagai Alternatif Energi Masa Depan Nasional Indonesia
Selain DME, pemerintah juga tengah mengkaji pemanfaatan Compressed Natural Gas atau CNG sebagai alternatif energi untuk menggantikan LPG.
Bahlil Lahadalia mengatakan CNG berasal dari komponen gas C1 dan C2 yang ketersediaannya lebih melimpah di dalam negeri dibanding bahan baku LPG.