THE BOTTOM LINE:
- Pemerintah fokus menjaga fondasi ekonomi Indonesia menghadapi ketidakpastian global melalui kebijakan fiskal terukur dan berkelanjutan.
- Menkeu menegaskan konsumsi domestik, investasi, dan hilirisasi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026.
- APBN tetap difungsikan sebagai instrumen utama menjaga daya beli masyarakat, lapangan kerja, dan stabilitas ekonomi.
BISNISNEWS.COM - Apakah ekonomi Indonesia cukup kuat menghadapi tekanan perang dagang dan perlambatan ekonomi dunia yang terus membesar?
Bagaimana pemerintah menjaga daya beli masyarakat, investasi, dan lapangan kerja ketika ketidakpastian global masih membayangi berbagai negara berkembang?
Tekanan Global Meningkat dan Risiko Ekonomi Terus Membesar
Pemerintah menegaskan fokus utama kebijakan fiskal saat ini adalah menjaga kekuatan fondasi ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Baca Juga: Dadan Hindayana Dicopot, Kejaksaan Agung Selidiki Dugaan Jual Beli Dapur MBG dan Tata Kelola BGN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kondisi ekonomi dunia masih menghadapi tekanan akibat perang dagang, perlambatan pertumbuhan, dan perubahan lanskap perdagangan internasional.
Menurut Purbaya, pemerintah memilih memperkuat ketahanan ekonomi domestik agar Indonesia mampu menghadapi gejolak eksternal dengan risiko yang lebih terkendali.
"Kita akan terus menjaga kekuatan ekonomi domestik sebagai penopang utama pertumbuhan," kata Purbaya dalam keterangan resmi Kementerian Keuangan.
Baca Juga: Penghapusan PPh Final UMKM Untuk CV Dan PT Ubah Peta Pertumbuhan Usaha Kecil Nasional
Pemerintah Andalkan Konsumsi Investasi dan Hilirisasi Nasional
Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada pada kisaran 5,2 persen hingga 5,8 persen dengan dukungan investasi, konsumsi domestik, dan hilirisasi sumber daya alam.
Selain itu, stabilitas inflasi ditargetkan tetap terjaga pada rentang 1,5 persen hingga 3,5 persen, sementara nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp16.500 hingga Rp16.900 per Dolar AS.
Purbaya menegaskan pemerintah akan terus mendorong reformasi regulasi dan peningkatan iklim investasi guna memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
"Pemerintah optimis untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi mendekati 5 persen melalui reformasi regulasi, peningkatan iklim investasi dan perdagangan," ujarnya.