Delapan Agenda Prioritas Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Kebijakan fiskal 2026 diarahkan untuk memperkuat delapan agenda utama pembangunan nasional yang mencakup ketahanan pangan, ketahanan energi, pendidikan, kesehatan, pembangunan desa, penguatan UMKM, pertahanan, dan investasi.
Program Makan Bergizi Gratis, penguatan sekolah unggulan, koperasi desa, serta percepatan investasi menjadi bagian penting strategi pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga menyiapkan kebijakan fiskal yang tetap ekspansif namun terukur dengan defisit APBN sekitar 2,48 persen hingga 2,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
APBN Tetap Jadi Tameng Menghadapi Ketidakpastian Dunia
Sebagai latar belakang, berbagai lembaga internasional sebelumnya menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global akibat meningkatnya tensi perdagangan dan perlambatan ekonomi sejumlah negara utama.
Dalam situasi tersebut, pemerintah menegaskan APBN tetap menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus melindungi masyarakat dan dunia usaha.
Langkah memperkuat fondasi ekonomi dinilai penting agar Indonesia tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan menuju target jangka panjang Indonesia Maju 2045.****
Artikel Terkait
Prabowo Minta Pemerintah Jujur, Pertumbuhan Ekonomi Harus Terasa Langsung oleh Seluruh Lapisan Rakyat
Evaluasi 1,5 Tahun Berujung Pergantian Kepala BGN, Prabowo Tunjuk Nanik S Deyang Sebagai Pengganti
Penghapusan PPh Final UMKM Untuk CV Dan PT Ubah Peta Pertumbuhan Usaha Kecil Nasional
Dadan Hindayana Dicopot Dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Pimpin Program Makan Bergizi Gratis Nasional
Kejagung Geledah Kantor BGN, Dugaan Jual Beli Dapur MBG Mengemuka Usai Pergantian Pimpinan Nasional
Dadan Hindayana Dicopot, Kejaksaan Agung Selidiki Dugaan Jual Beli Dapur MBG dan Tata Kelola BGN
Dasco Ungkap Alasan Pergantian Kepala BGN, Apa Dampaknya Bagi Program Makan Bergizi Gratis Nasional
IHSG Anjlok dan Rupiah Mendekati Rp18.000, Mengapa Kepercayaan Investor Indonesia Kini Jadi Sorotan Utama
Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Mengapa Dugaan Korupsi MBG dan Pengadaan Motor Listrik Disorot Publik Luas
Rupiah Nyaris Rp18.000 Per Dolar AS, Mengapa Tekanan Pasar Global Kini Semakin Mengkhawatirkan Investor