Dalam praktik global, kredibilitas komunikasi pejabat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap suatu negara.
Baca Juga: ESDM Respons Tambang WBN Tutup, Revisi RKAB Jadi Kunci Lanjut Operasi dan Kepatuhan Regulasi
Strategi Komunikasi Berbasis Data Jadi Kunci Menahan Noise Ekonomi
Pemerintah didorong untuk memperkuat komunikasi berbasis data guna menghadapi meningkatnya “noise” ekonomi yang berkembang cepat.
Penyediaan indikator ekonomi harian seperti konsumsi listrik industri dan penjualan ritel dinilai mampu memberikan gambaran kondisi riil.
Langkah ini penting untuk membedakan antara sentimen jangka pendek dan fundamental ekonomi yang sebenarnya tetap stabil.
Budi Purnomo Karjodihardjo yang juga praktisi media dan komunikasi menilai transparansi data dapat mempercepat pemulihan kepercayaan pasar terhadap Rupiah dan IHSG.
Ia menambahkan bahwa “pasar membutuhkan kepastian angka, bukan sekadar pernyataan normatif yang sulit diverifikasi secara cepat.”
Latar Belakang Global Perkuat Tekanan Rupiah dan Fluktuasi IHSG
Tekanan terhadap Rupiah tidak terlepas dari kondisi global seperti penguatan Dolar AS dan kebijakan suku bunga negara maju.
Sejumlah media internasional sebelumnya juga mencatat bahwa volatilitas mata uang negara berkembang meningkat seiring ketidakpastian ekonomi global.
Namun demikian, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi stabil di atas rata-rata global dan neraca perdagangan yang relatif surplus.
Dikutip dari laman resminya Budipurnomo.com, ia menilai fundamental tersebut menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas jangka menengah.
Ia menyimpulkan bahwa “tantangan utama saat ini bukan hanya ekonomi, tetapi bagaimana komunikasi mampu mengelola persepsi pasar secara efektif.”