Korporasi yang memiliki kewajiban utang dalam mata uang asing juga menghadapi risiko peningkatan beban pembayaran ketika kurs terus melemah.
Sejumlah pelaku pasar menilai pelemahan hingga menembus Rp18.000 menunjukkan sentimen investor terhadap aset domestik sedang mengalami tekanan yang perlu direspons secara hati-hati.
Baca Juga: Penghapusan PPh Final UMKM Untuk CV Dan PT Ubah Peta Pertumbuhan Usaha Kecil Nasional
Dampak Langsung Terhadap Harga dan Daya Beli Masyarakat
Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan harga berbagai produk yang memiliki komponen impor tinggi.
Sektor energi, elektronik, farmasi, hingga industri manufaktur menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap perubahan kurs Dolar AS.
Apabila pelemahan berlangsung dalam periode panjang, tekanan inflasi dapat meningkat dan berdampak terhadap daya beli masyarakat serta aktivitas konsumsi nasional.
Sebagai informasi, tekanan terhadap rupiah sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir ketika Dolar AS terus menguat terhadap berbagai mata uang dunia.
Sebelumnya, Bank Indonesia berulang kali menegaskan akan menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar valuta asing dan pengelolaan likuiditas untuk meredam volatilitas yang berlebihan.
Kini perhatian pasar tertuju pada langkah lanjutan pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga kepercayaan investor serta memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah tekanan global yang masih berlangsung.****