THE BOTTOM LINE:
- Rupiah tembus Rp18.000 per Dolar AS, memicu perhatian pasar terhadap stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
- Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global, bukan semata kondisi domestik Indonesia.
- Tekanan kurs berpotensi meningkatkan biaya impor, beban utang valas korporasi, dan risiko kenaikan harga barang.
BISNISNEWS.COM - Mengapa rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per Dolar AS setelah berbulan-bulan mendapat tekanan?
Apakah pelemahan ini hanya dipicu faktor global, atau ada persoalan domestik yang membuat pasar kehilangan kepercayaan?
Rupiah Menembus Level Psikologis Yang Lama Dikhawatirkan Pasar
Nilai tukar rupiah akhirnya menembus Rp18.000 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, sehingga memicu perhatian pelaku pasar dan publik.
Baca Juga: IHSG Terendah Lima Tahun, Mengapa Investor Global Mulai Menjauhi Pasar Saham Indonesia Saat Ini?
Level tersebut menjadi sorotan karena merupakan titik yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting dalam stabilitas mata uang nasional.
Pelemahan rupiah juga terjadi ketika berbagai indikator ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian suku bunga, perlambatan ekonomi dunia, dan penguatan mata uang Dolar AS.
Perdebatan Muncul Mengenai Penyebab Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Menkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan pelemahan rupiah bukan semata disebabkan faktor domestik.
Baca Juga: Menkeu Ungkap Strategi Jaga Fondasi Ekonomi Saat Ancaman Global Kian Menguat pada Tahun 2026
"Saya kira jangan salahkan saya kalau rupiah Rp18.000. Itu kan faktor global juga," kata Purbaya saat menanggapi sorotan terhadap kondisi nilai tukar.
Menurut dia, tekanan terhadap berbagai mata uang negara berkembang terjadi secara luas akibat perubahan arus modal global yang kembali mengalir ke aset berbasis Dolar AS.
Purbaya juga menilai pemerintah dan otoritas ekonomi telah berupaya menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan eksternal yang tidak mudah dikendalikan.
Baca Juga: Dadan Hindayana Dicopot, Kejaksaan Agung Selidiki Dugaan Jual Beli Dapur MBG dan Tata Kelola BGN
Pelaku Pasar Menyoroti Risiko Terhadap Perekonomian Nasional
Di sisi lain, pelemahan rupiah menimbulkan kekhawatiran mengenai kenaikan biaya impor bahan baku dan barang modal.
Artikel Terkait
Evaluasi 1,5 Tahun Berujung Pergantian Kepala BGN, Prabowo Tunjuk Nanik S Deyang Sebagai Pengganti
Penghapusan PPh Final UMKM Untuk CV Dan PT Ubah Peta Pertumbuhan Usaha Kecil Nasional
Kejagung Geledah Kantor BGN, Dugaan Jual Beli Dapur MBG Mengemuka Usai Pergantian Pimpinan Nasional
Dadan Hindayana Dicopot, Kejaksaan Agung Selidiki Dugaan Jual Beli Dapur MBG dan Tata Kelola BGN
Dasco Ungkap Alasan Pergantian Kepala BGN, Apa Dampaknya Bagi Program Makan Bergizi Gratis Nasional
IHSG Anjlok dan Rupiah Mendekati Rp18.000, Mengapa Kepercayaan Investor Indonesia Kini Jadi Sorotan Utama
Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Mengapa Dugaan Korupsi MBG dan Pengadaan Motor Listrik Disorot Publik Luas
Rupiah Nyaris Rp18.000 Per Dolar AS, Mengapa Tekanan Pasar Global Kini Semakin Mengkhawatirkan Investor
Menkeu Ungkap Strategi Jaga Fondasi Ekonomi Saat Ancaman Global Kian Menguat pada Tahun 2026
IHSG Terendah Lima Tahun, Mengapa Investor Global Mulai Menjauhi Pasar Saham Indonesia Saat Ini?