Meski demikian, Indonesia menghadapi tekanan tambahan akibat pelemahan rupiah yang memperbesar kekhawatiran investor terhadap risiko investasi jangka pendek.
Tata Kelola dan Kredibilitas Kebijakan Menjadi Perhatian
Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati sejumlah isu domestik yang dinilai memengaruhi persepsi risiko terhadap Indonesia.
Sejumlah analis yang dikutip media arus utama menilai perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada pertumbuhan ekonomi nasional.
Fokus pasar mulai bergeser kepada aspek tata kelola, kepastian regulasi, serta kredibilitas kebijakan yang berpengaruh terhadap keputusan investasi jangka panjang.
Dalam penilaian tersebut disebutkan bahwa “pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia.”
Baca Juga: Evaluasi 1,5 Tahun Berujung Pergantian Kepala BGN, Prabowo Tunjuk Nanik S Deyang Sebagai Pengganti
Pernyataan itu mencerminkan meningkatnya sensitivitas investor terhadap faktor non-ekonomi yang berpotensi memengaruhi arus modal asing.
Bursa Efek Indonesia Minta Investor Tetap Rasional
Di tengah gejolak pasar, Bursa Efek Indonesia mengimbau investor untuk tidak mengambil keputusan secara emosional.
Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, meminta pelaku pasar tetap berpegang pada fundamental korporasi yang menjadi tujuan investasi.
“Oleh karena itu, tentu tidak bosan-bosannya kami mengingatkan supaya investor tetap memperhatikan fundamental, tidak panik, menganalisis secara cermat,” ujar Jeffrey Hendrik.
Menurut Bursa Efek Indonesia, volatilitas tinggi masih dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.
Investor disarankan mengedepankan perspektif jangka panjang sambil mencermati perkembangan nilai tukar, arus modal asing, dan kebijakan ekonomi pemerintah.