Ancaman Psikologis Ketika Rupiah Mendekati Level Rp18.000
Level Rp18.000 per Dolar AS menjadi perhatian karena memiliki dampak psikologis yang besar bagi pelaku usaha dan masyarakat.
Pelemahan kurs berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku, energi, serta berbagai produk yang masih bergantung pada transaksi Dolar AS.
Baca Juga: Dasco Ungkap Alasan Pergantian Kepala BGN, Apa Dampaknya Bagi Program Makan Bergizi Gratis Nasional
Tekanan tersebut dapat memengaruhi biaya produksi korporasi dan berisiko mendorong kenaikan harga sejumlah barang di pasar domestik apabila berlangsung dalam periode panjang.
Rekor Pelemahan Terjadi di Tengah Gejolak Global Berkepanjangan
Sebelumnya, rupiah telah beberapa kali mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah selama 2026.
Tekanan terhadap mata uang nasional berlangsung bersamaan dengan penguatan Dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik internasional.
Baca Juga: Kejagung Geledah Kantor BGN, Dugaan Jual Beli Dapur MBG Mengemuka Usai Pergantian Pimpinan Nasional
Bank Indonesia bahkan telah menaikkan suku bunga acuannya pada Mei 2026 sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan risiko pasar keuangan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan menjaga stabilitas rupiah masih menjadi agenda utama otoritas moneter di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.****