THE BOTTOM LINE:
- Rupiah anjlok hingga Rp17.926 per Dolar AS, mendekati level psikologis Rp18.000 dan menjadi sorotan pasar keuangan.
- Bank Indonesia menegaskan tekanan rupiah dipicu faktor global, termasuk penguatan Dolar AS dan ketegangan geopolitik.
- Otoritas keuangan membuka opsi memperkuat koordinasi KSSK guna menjaga stabilitas pasar dan ekonomi nasional.
BISNISNEWS.COM - Apakah pelemahan rupiah hingga mendekati Rp18.000 per Dolar AS hanya gejolak pasar sementara, atau sinyal tekanan ekonomi yang lebih serius?
.Mengapa mata uang Indonesia menjadi yang terlemah di Asia ketika ketidakpastian global kembali meningkat dan investor mencari aset aman?
Rupiah Menjadi Mata Uang Asia dengan Tekanan Terbesar
Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor pelemahan baru pada perdagangan Rabu, 03/06/2026, setelah menyentuh level Rp17.926 per Dolar AS.
Baca Juga: Evaluasi 1,5 Tahun Berujung Pergantian Kepala BGN, Prabowo Tunjuk Nanik S Deyang Sebagai Pengganti
Data pasar menunjukkan posisi tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada hari yang sama.
Pelemahan terjadi ketika pelaku pasar global meningkatkan kepemilikan Dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi dunia.
Bank Indonesia Menilai Tekanan Berasal dari Faktor Eksternal Global
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah terutama dipicu faktor eksternal.
Erwin menegaskan bahwa pelemahan mata uang negara berkembang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami berbagai negara lain akibat meningkatnya risiko global.
"Pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara-negara lain akibat eskalasi ketegangan geopolitik global," kata Erwin G. Hutapea.
Ia juga menegaskan bahwa Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar keuangan.
"Bank Indonesia terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental ekonomi nasional," ujarnya.