finansial

IHSG Anjlok dan Rupiah Mendekati Rp18.000, Mengapa Kepercayaan Investor Indonesia Kini Jadi Sorotan Utama

Rabu, 3 Juni 2026 | 16:15 WIB
Perdagangan saham menampilkan pergerakan IHSG yang terkoreksi tajam sepanjang 2026, di tengah meningkatnya tekanan pasar dan keluarnya dana asing dari Indonesia. (Dok. Kreasi Dola AI)

Perubahan komposisi indeks itu mendorong arus keluar dana asing dan mempercepat tekanan terhadap pasar saham maupun nilai tukar rupiah.

"MSCI memang bukan regulator Indonesia, namun keputusan lembaga indeks global mampu memengaruhi biaya modal, likuiditas, dan persepsi risiko pasar Indonesia secara langsung," kata Kusfiardi.

Baca Juga: Dadan Hindayana Dicopot Dari Kepala BGN, Nanik S Deyang Pimpin Program Makan Bergizi Gratis Nasional

Menurutnya, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa pasar keuangan nasional masih sangat sensitif terhadap keputusan institusi keuangan global.

Investor Domestik Belum Mampu Menjadi Penyangga Utama Pasar

FINE Institute mencatat investor domestik mulai berperan menyerap tekanan jual asing selama pekan terakhir Mei 2026.

Meski demikian, kapasitas dana institusional nasional dinilai belum cukup besar untuk menjadi penyeimbang utama ketika terjadi perubahan arus modal global.

Baca Juga: PPh Final UMKM Dibatasi, Mengapa CV dan PT Kini Kehilangan Fasilitas Pajak Favorit Para Pelaku Usaha

Data pergerakan pasar menunjukkan rupiah melemah sekitar 10 persen sepanjang tahun berjalan, sedangkan IHSG turun hampir 30 persen.

Perbedaan itu mengindikasikan investor tidak hanya mengurangi eksposur terhadap rupiah, tetapi juga melakukan penyesuaian ulang terhadap risiko Indonesia secara keseluruhan.

Reformasi Struktural Dinilai Jadi Kunci Menjaga Stabilitas Jangka Panjang

Kusfiardi menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan berada pada level IHSG atau kurs rupiah semata.

Baca Juga: Prabowo Copot Dadan Hindayana Dari BGN, Apa Dampaknya Bagi Program Makan Bergizi Gratis Nasional

"Pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan dan kapasitas negara dalam menjaga stabilitas sistem keuangan," ujarnya.

Sebagai latar belakang, sejumlah media ekonomi nasional sebelumnya juga melaporkan meningkatnya volatilitas pasar negara berkembang akibat kombinasi suku bunga global tinggi dan ketidakpastian geopolitik.

FINE Institute menilai agenda mendesak saat ini adalah memperdalam pasar keuangan, memperkuat investor institusional domestik, memperbesar free float, serta meningkatkan tata kelola pasar.

Baca Juga: Utang Negara Jadi Sorotan, PDIP Ungkap Tantangan Fiskal Indonesia Dan Dampaknya Bagi Masyarakat Produktif

Halaman:

Tags

Terkini