THE BOTTOM LINE:
- FINE Institute menilai koreksi IHSG dan pelemahan rupiah mencerminkan turunnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
- Ketergantungan tinggi pada modal asing membuat pasar domestik rentan terhadap gejolak global dan keputusan institusi internasional.
- Reformasi struktural dinilai mendesak untuk memperkuat likuiditas, investor domestik, dan stabilitas pasar jangka panjang.
BISNISNEWS.COM - IHSG anjlok dan rupiah melemah, apakah investor mulai meragukan ketahanan pasar Indonesia?
Mengapa tekanan pasar pada 2026 dinilai lebih dalam daripada sekadar koreksi saham dan nilai tukar, serta apa dampaknya bagi stabilitas ekonomi nasional ke depan?
Kepercayaan Investor Jadi Sorotan di Tengah Gejolak Pasar Keuangan Indonesia
Gejolak pasar keuangan Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 dinilai mencerminkan persoalan yang lebih serius dibandingkan sekadar pelemahan rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Baca Juga: Dasco Ungkap Alasan Pergantian Kepala BGN, Apa Dampaknya Bagi Program Makan Bergizi Gratis Nasional
FINE Institute menilai penurunan IHSG hampir 33 persen dari puncak Januari 2026 serta pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per Dolar AS menunjukkan meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar keuangan Indonesia.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai tingkat kepercayaan investor terhadap ketahanan struktur pasar domestik di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Empat Temuan Penting dari Gejolak Pasar Sepanjang Tahun Ini
Co-Founder FINE Institute sekaligus Analis Ekonomi Politik Pasar Keuangan, Kusfiardi, mengatakan koreksi yang terjadi tidak hanya menyentuh harga aset keuangan.
Baca Juga: Kejagung Geledah Kantor BGN, Dugaan Jual Beli Dapur MBG Mengemuka Usai Pergantian Pimpinan Nasional
"Yang mengalami koreksi bukan hanya harga saham dan nilai tukar, tetapi juga persepsi investor terhadap risiko pasar Indonesia secara keseluruhan," ujar Kusfiardi.
Menurutnya, faktor eksternal seperti konflik geopolitik Timur Tengah, penguatan Dolar AS, dan tingginya suku bunga global memang berpengaruh.
Namun, kedalaman koreksi yang terjadi menunjukkan adanya persoalan domestik berupa struktur pasar yang masih dangkal serta tingginya ketergantungan terhadap arus modal asing.
Rebalancing MSCI Ungkap Ketergantungan pada Modal Asing Global
FINE Institute juga menyoroti dampak rebalancing MSCI pada Mei 2026 yang memicu keluarnya sejumlah saham besar Indonesia dari indeks global tersebut.