Sana Ur Rehman, Financial Market Analyst EBC Financial Group, menyatakan Filipina hanya mampu berperan terbatas sebagai alternatif pemasok bijih nikel.
Ia menegaskan belum ada negara yang mampu menggantikan dominasi Indonesia dalam satu hingga tiga tahun ke depan.
Hambatan Hilirisasi dan Infrastruktur Batasi Peran Filipina Secara Global
Keterbatasan Filipina tidak hanya pada volume produksi, tetapi juga pada lemahnya kapasitas hilirisasi industri nikel domestik.
Negara tersebut masih bergantung pada ekspor bijih mentah karena tingginya biaya energi dan terbatasnya infrastruktur industri.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan dan proses perizinan yang lambat menjadi hambatan utama dalam pengembangan industri pengolahan nikel.
Di luar Asia, peningkatan produksi di Australia dan Kanada juga terkendala investasi besar serta waktu pengembangan proyek yang panjang.
Situasi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama yang belum tergantikan dalam ekosistem nikel global.
Langkah Strategis Pemerintah Perkuat Kendali Aset Nikel Domestik Nasional
Di tengah dinamika pasar, pemerintah mulai memperkuat kontrol terhadap aset strategis di sektor pertambangan nikel nasional.
Salah satunya melalui rencana Danantara yang mempertimbangkan akuisisi 38,7 persen saham milik Eramet di PT Weda Bay Nickel.
Tambang tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia dengan struktur kepemilikan melibatkan korporasi asal Tiongkok dan Indonesia.
Produksi Weda Bay Nickel mencapai 36,3 metrik ton pada 2023 dengan tambahan output dari fasilitas RKEF sekitar 30 ribu ton nikel.
Baca Juga: Presiden Prabowo Instruksikan Penanganan Korban Kecelakaan Kereta Bekasi dan Investigasi Menyeluruh