finansial

Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS, Mengapa Tekanan Global Kini Jadi Sorotan Utama Investor Indonesia

Kamis, 4 Juni 2026 | 12:15 WIB
Layar perdagangan menampilkan kurs rupiah yang menembus Rp18.000 per Dolar AS, memicu perhatian investor dan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional. (Dok. Kreasi Dola AI)

THE BOTTOM LINE:

  • Rupiah tembus Rp18.000 per Dolar AS, memicu perhatian pasar terhadap stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
  • Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global, bukan semata kondisi domestik Indonesia.
  • Tekanan kurs berpotensi meningkatkan biaya impor, beban utang valas korporasi, dan risiko kenaikan harga barang.

BISNISNEWS.COM - Mengapa rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per Dolar AS setelah berbulan-bulan mendapat tekanan?

Apakah pelemahan ini hanya dipicu faktor global, atau ada persoalan domestik yang membuat pasar kehilangan kepercayaan?

Rupiah Menembus Level Psikologis Yang Lama Dikhawatirkan Pasar

Nilai tukar rupiah akhirnya menembus Rp18.000 per Dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, sehingga memicu perhatian pelaku pasar dan publik.

Baca Juga: IHSG Terendah Lima Tahun, Mengapa Investor Global Mulai Menjauhi Pasar Saham Indonesia Saat Ini?

Level tersebut menjadi sorotan karena merupakan titik yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis penting dalam stabilitas mata uang nasional.

Pelemahan rupiah juga terjadi ketika berbagai indikator ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian suku bunga, perlambatan ekonomi dunia, dan penguatan mata uang Dolar AS.

Perdebatan Muncul Mengenai Penyebab Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Menkeu RI Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan pelemahan rupiah bukan semata disebabkan faktor domestik.

Baca Juga: Menkeu Ungkap Strategi Jaga Fondasi Ekonomi Saat Ancaman Global Kian Menguat pada Tahun 2026

"Saya kira jangan salahkan saya kalau rupiah Rp18.000. Itu kan faktor global juga," kata Purbaya saat menanggapi sorotan terhadap kondisi nilai tukar.

Menurut dia, tekanan terhadap berbagai mata uang negara berkembang terjadi secara luas akibat perubahan arus modal global yang kembali mengalir ke aset berbasis Dolar AS.

Purbaya juga menilai pemerintah dan otoritas ekonomi telah berupaya menjaga stabilitas makroekonomi di tengah tekanan eksternal yang tidak mudah dikendalikan.

Baca Juga: Dadan Hindayana Dicopot, Kejaksaan Agung Selidiki Dugaan Jual Beli Dapur MBG dan Tata Kelola BGN

Pelaku Pasar Menyoroti Risiko Terhadap Perekonomian Nasional

Di sisi lain, pelemahan rupiah menimbulkan kekhawatiran mengenai kenaikan biaya impor bahan baku dan barang modal.

Halaman:

Tags

Terkini