TO THE POINT: KEY POINTS: NEWS SUMMARY:
- Bos ExxonMobil memperingatkan potensi lonjakan harga minyak akibat ketidakseimbangan pasar energi global.
- Darren Woods menyebut faktor geopolitik dan investasi rendah sebagai pemicu kenaikan harga minyak dunia.
- Permintaan minyak tetap tinggi sementara pasokan belum pulih sepenuhnya pasca tekanan investasi global.
BISNISNEWS.COM - Apakah harga minyak dunia akan kembali melonjak dan membebani ekonomi global dalam waktu dekat?
Seberapa besar dampaknya bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi di tengah ketidakpastian geopolitik global?
Proyeksi Kenaikan Harga Minyak Dipicu Ketegangan Global dan Permintaan Energi
Harga minyak dunia berpotensi melonjak lebih tinggi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan prospek permintaan energi global yang tetap kuat menurut pernyataan pimpinan korporasi energi global.
Baca Juga: MBG Harus Jalan Terus Saat Kepercayaan Publik Turun, Agus Sulistriyono Soroti Kepemimpinan BGN
Chief Executive Officer ExxonMobil, Darren Woods, menyampaikan bahwa faktor geopolitik dan dinamika pasokan global menjadi pendorong utama potensi kenaikan harga minyak dalam waktu mendatang.
Ia menilai ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan dapat menciptakan tekanan harga, terutama ketika produksi tidak mampu mengimbangi lonjakan konsumsi energi global.
Faktor Geopolitik dan Pasokan Global Jadi Penentu Harga Minyak
Darren Woods menegaskan bahwa ketidakpastian geopolitik terus menjadi faktor dominan dalam menentukan arah harga minyak dunia.
Baca Juga: Respons Buruh Soal Program Makan Bergizi Gratis Saat May Day Picu Evaluasi Implementasi Pemerintah
Menurutnya, konflik dan gangguan pasokan di sejumlah wilayah produsen utama dapat memicu lonjakan harga secara signifikan dalam waktu relatif singkat.
Ia juga menyebutkan bahwa investasi di sektor energi yang belum optimal berpotensi memperketat pasokan global di tengah permintaan yang terus meningkat.
Dampak Kenaikan Harga Minyak Terhadap Ekonomi dan Inflasi Global
Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi global, terutama pada sektor transportasi dan logistik yang sangat bergantung pada energi fosil.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, lonjakan harga minyak dapat meningkatkan beban subsidi energi serta memperlebar defisit neraca perdagangan.