THE BOTTOM LINE:
- Polemik seleksi Paskibraka Makassar viral setelah siswi bernilai tinggi gagal lolos tahapan akhir seleksi resmi.
- Wali Kota Makassar meminta proses seleksi Paskibraka dilakukan objektif, transparan, dan bebas penilaian nonteknis peserta.
- Ketua Purna Paskibra Makassar menegaskan nasionalisme peserta tidak ditentukan etnis maupun latar belakang keluarga tertentu.
BISNISNEWS.COM - Bagaimana siswi dengan nilai tinggi bisa gagal lolos seleksi Paskibraka Makassar tahun ini?
Apakah polemik ini menjadi sinyal perlunya evaluasi besar terhadap sistem seleksi Paskibraka yang selama ini dianggap tertutup publik?
Polemik Seleksi Paskibraka Makassar Memicu Reaksi Publik Semakin Luas
Polemik seleksi Paskibraka Makassar menjadi perhatian publik setelah seorang siswi dikabarkan gagal lolos meski memiliki nilai tinggi dalam tahapan seleksi.
Cathlyn Yvaine Lesmana, siswi asal Makassar gagal menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional.
Nama Cathlyn tidak ada dalam daftar yang akan berangkat ke Istana Negara, padahal, nilainya dalam seleksi di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) masuk tiga besar.
Informasi tersebut viral di media sosial dan memicu perdebatan mengenai transparansi, objektivitas, serta standar penilaian peserta Paskibraka tingkat daerah.
Kasus ini menjadi sorotan karena Paskibraka dianggap sebagai simbol pembinaan karakter, disiplin, dan nasionalisme generasi muda Indonesia.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengaku prihatin terhadap polemik tersebut dan meminta proses seleksi dilakukan secara objektif serta profesional.
Munafri Arifuddin selaku Wali Kota Makassar menilai seluruh peserta harus memperoleh kesempatan yang sama tanpa diskriminasi maupun penilaian nonteknis.
Ketua Paskibra Makassar Tegaskan Nasionalisme Bukan Soal Identitas Etnis
Ketua Purna Paskibra Makassar Muhammad Fahmi memberikan penjelasan setelah isu tersebut berkembang luas dan memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
Ia menegaskan nasionalisme peserta tidak ditentukan oleh etnis, latar belakang keluarga, maupun identitas tertentu yang melekat pada peserta seleksi.